Tugas IT3 : Perusahaan Penyedia Sertifikasi (Selain Sukofindo), Framework IT (Selain COBIT)

Perusahaan Penyedia Sertifikasi (Selain Sukofindo)

logo

Bagi organisasi yang ingin mendapatkan pengakuan dari pihak ketiga bahwa sistem manajemen mutu (sebut saja SMM) –nya telah memenuhi standard ISO 9001:2000 tentu harus melewati proses pemilihan badan sertifikasi yang kelak akan memberikan pengakuan ini dalam bentuk sertifikat ISO 9001:2000.

Untuk lingkup Indonesia saja, banyak sekali pilihan badan sertifikasi yang saat ini beredar di industri sertifikasi SMM. Paling sedikit ada 26 badan sertifikasi SMM yang ada di Indonesia, sedikit menyebut diantaranya seperti LRQA, DNV,SGS, BVQI, BSI, SUCOFINDO, URS, TUV, dan sebagainya.

 

Tentu masing-masing badan sertifikasi itu (terutama via orang marketingnya) akan bilang bahwa merekalah yang terbaik, merekalah yang paling added value, merekalah yang paling dikenal di dunia internasional, merekalah yang punya auditor paling kompeten, merekalah yang paling ‘worth for money’ dan kata-kata sejenis yang intinya sama dengan orang jualan kecap, selalu nomer 1 J

 

Anda sebagai yang memilih, kemungkinan besar akan bingung. Ujung-ujungnya banyak yang memilih cari aman, entah dengan memilih ‘yang paling banyak dipake orang terutama customer kita’, atau memilih ‘ yang paling tua’,  memilih ‘yang paling murah’ atau bahkan ‘yang paling mahal’ supaya ada prestige di mata competitor.

 

Salahkah pemilihan ala cari aman begitu ? Engga salah-salah amat sih,  tapi bisa jadi itu akan menjadi awal kegagalan penerapan SMM di tempat Anda. Kenapa begitu? Karena badan sertifikasi adalah suatu komponen dalam SMM Anda yang harusnya membantu Anda untuk melihat SMM dari sudut pandang independen dan bisa memacu organisasi dalam melakukan perbaikan berkelanjutan (continual improvement) terhadap SMMnya. Jika Anda salah pilih, bisa jadi Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari proses sertifikasi ini selain buang-buang duit pas awal sertifikasi, lalu setiap 6 bulan dan kemudian setiap 3 tahun saat renewal.

 

Karena itu sangat penting bahwa Anda memilih badan sertifikasi yang tepat. Tepat dalam arti memang sesuai dengan kebutuhan organisasi Anda dan kedua pihak sama-sama akan menghasilkan hubungan kerja yang saling menguntungkan. Pada hakekatnya, Anda harus melihat badan sertifikasi sebagai partner dalam mendorong continual improvement terhadap SMM, bukan sebagai pihak penyedia sertifikat belaka. Satu badan sertifikasi bisa saja hebat dan cocok untuk satu organisasi, tetapi bisa jadi bukan pilihan yang tepat buat organisasi lain. Karenanya, sangat penting bagi Anda untuk melakukan pemilihan yang tepat.

 

Tips sejenis yaitu tentang memilih badan sertifikasi pernah saya lihat di blog Quality Indonesia, lihat artikel ini :

 

Kali ini, apa yang akan saya sampaikan lebih dari sudut pandang pengalaman pribadi baik sebagai orang yang pernah jadi praktisi (quality engineer, MR, dan sejenisnya), konsultan maupun sebagai third party lead assessor di salah satu badan sertifikasi. Tips ini lebih ke sisi ‘technical evaluation’ daripada soal ‘commercial evaluation’. Dalam arti, lupakan dulu soal penawaran harga dari masing-masing badan sertifikasi. Evaluasi harga baru diperhatikan setelah Anda memastikan item-item yang saya tuliskan dibawah ini.

 

1. Sesuaikan dengan pasar produk

Beberapa badan sertifikasi yang terkenal namanya di lingkup Indonesia, belum tentu punya reputasi sama baiknya di negara tujuan produk atau jasa Anda. Jangan lupa, customer maupun end users pasti beranggapan bahwa SMM Anda merefleksikan mutu produk Anda. Selain itu, beberapa negara tertentu biasanya mensyaratkan bahwa SMM dari produsen yang akan menjual produk di negaranya harus terakreditasi ke badan akreditasi nasional di negara itu. Secara generic, umumnya akreditasi UKAS akan diterima di mana saja, tetapi kadang kala ada negara yang mempersyaratkan selain akreditasi UKAS, akreditasi nasional negara itu juga harus ada. Contoh JAB di Jepang, ANSI RAB di Amerika, dan sebagainya.

Dengan demikian jika negara tujuan produk Anda memiliki persyaratan akreditasi tersebut, badan sertifikasi yang akan Anda pilih harus memiliki akreditasi dari negara tujuan produk Anda.

Dalam hal reputasi, pastikan bahwa badan sertifikasi yang akan Anda pilih memiliki reputasi yang baik di negara tujuan produk Anda. Ada beberapa badan sertifikasi yang sangat terkenal di Indonesia tetapi belum tentu dikenal sama sekali oleh customers dan /atau end users di negara tujuan produk Anda belum tentu dikenal sama sekali. Ada pula yang dari track-recordnya ternyata pernah mendapat masalah di negara lain, dan bahkan pernah di-warning atau malah disuspend  bahkan dicabut akreditasinya di negara lain. Dengan kondisi sekarang di mana informasi tersedia via internet dengan gampang, tidak sulit melakukan background check dari suatu badan sertifikasi, terutama reputasinya di negara tujuan produk maupun jasa Anda.

2. Periksa kesesuaian akreditasi yang dimiliki badan sertifikasi dengan lingkup proses bisnis yang akan disertifikasi

Meskipun suatu badan sertifikasi telah diakreditasi oleh badan akreditasi (contohnya UKAS), Anda tetap harus pastikan terhadap bidang industri atau lingkup proses bisnis apa saja akreditasi ini diberikan. Meskipun ada embel2 akreditasi UKAS , belum tentu badan sertifikasi itu telah memiliki akreditasi UKAS terhadap industri atau proses bisnis Anda yang akan disertifikasi.

Ada beberapa sistem kode identifikasi bidang industri yang digunakan dalam bisnis sertifikasi, tetapi yang paling lazim digunakan adalah system kode terbitan EAC (European Accreditation of Certification). Sebagai contoh, EAC code untuk konstruksi = 28, untuk pertanian adalah = 1, pendidikan = 37, dan sebagainya. Total sampai saat ini ada sekitar 39 bidang industri yang sudah mendapatkan kode dari EAC. Kode EAC ini diadopsi oleh banyak badan akreditasi termasuk UKAS. Akreditasi yang diberikan suatu badan akreditasi seperti UKAS terhadap badan sertifikasi adalah terpisah-pisah per kode industri / proses bisnis. Jadi belum tentu suatu badan sertifikasi yang memiliki akreditasi UKAS telah terakreditasi terhadap seluruh sektor industri dalam kode EAC. Bisa jadi meski sudah terakreditasi UKAS, hanya beberapa sektor industri yang tercakup dalam akreditasi mereka. Jadi, sebelum memilih, pastikan badan sertifikasi tersebut telah diakreditasi untuk proses bisnis/jenis industri yang akan Anda sertifikasi.

3. Sesuaikan dengan keinginan customer

Muara dari suatu SMM adalah kepuasan pelanggan. Dalam banyak kasus, organisasi biasanya berusaha mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 semata untuk memenuhi keinginan (baca : persyaratan) customer. Yang sering terjadi biasanya karena sertifikat ISO 9001:2000 menjadi persyaratan tender.

Untuk sektor-sektor industri/bisnis tertentu, biasanya ada badan sertifikasi yang lebih dikenal atau lebih punya nama dibandingkan industri / jenis bisnis lainnya. Misalnya untuk kostruksi infrastruktur , para kontraktor besar seperti WIKA, Adikarya, Nusa Raya Cipta, DECORIENT, Gunanusa Utama,  dan banyak kontraktor lainnya disertifikasi oleh LRQA. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa atau barang ke kontraktor ini (subkontraktor) cenderung memilih disertifikasi oleh LRQA dengan harapan mendapatkan nilai lebih di mata customer karena sama-sama disertifikasi oleh badan yang sama.

Jadi sebelum memilih, tidak salah kalau Anda coba-coba cari tahu kira-kira mayoritas customer Anda disertifikasi oleh badan sertifikasi yang mana.

4. Periksa persyaratan local authority / statutory di Indonesia

Sering luput dari perhatian bahwa di Indonesia ada persyaratan atau regulasi lokal – terutama terkait produk Anda , yang  bisa membatasi badan sertifikasi yang boleh Anda pilih terutama karena adanya aturan standarisasi nasional seperti diatur dalam PP No.102 tahun 2009.  Sebagai contoh, untuk bidang perkebunan/pertanian dan produk-produk turunannya yang harus mendapatkan tanda SNI (standard nasional Indonesia) untuk sertifikasi produk,  ada persyaratan bahwa sertifikasi SMM yang mereka miliki harus dikeluarkan oleh badan sertifikasi yang telah diakreditasi KAN (Komite Akreditasi Nasional) di Indonesia. Dengan demikian, jika produk Anda harus memiliki tanda SNI, tentu tidak ada gunanya jika sertifikasi SMM Anda dilakukan oleh badan sertifikasi yang belum diakreditasi KAN. Untuk tahu badan sertifikasi mana saja di Indonesia yang sudah mendapat akreditasi KAN, silahkan menghubungi BSN (Badan Standarisasi Nasional) atau lihat di link ini.

5. Periksa latar belakang customer yang ada dalam database badan sertifikasi

Masih ada kaitannya dengan kecenderungan sektor industri seperti saya bahas di item no.3, Anda perlu tahu database customer dari suatu badan sertifikasi. Jika di database mereka banyak customer dengan bisnis sejenis dengan organisasi Anda, maka itu berarti mereka sudah punya pengalaman dan kompetensi yang baik di industri itu, termasuk pengalaman dan kompetensi dari auditornya. Selain itu, dengan banyak customer sejenis, ada lebih banyak peluang buat Anda untuk mendapatkan benchmarking best practice di industri sejenis terutama via auditor yang telah menjalani banyak perusahaan sejenis.

Selain itu, pemeriksaan latar belakang customer di dalam database badan sertifikasi juga bisa mengindikasikan kredibilitas badan sertifikasi. Jika customernya adala perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi yang bagus, maka ini bisa mengindikasikan reputasi dan kinerja dari badan sertifikasi itu sendiri. Paling tidak memberi Anda confident level yang lebih tinggi dibandingkan jika dalam database customer badan sertifikasi kebanyakan terdiri perusahaan-perusahaan yang tidak pernah Anda dengar namanya atau malah punya reputasi yang tidak baik di kalangan industri maupun bisnis.

6. Periksa kesesuaian kompetensi auditor dengan bisnis Anda

Satu hal yang jarang dilakukan organisasi saat proses pemilihan badan sertifikasi adalah meminta CV/resume dari auditor yang akan ditugaskan melakukan audit terhadap SMM Anda. Marketing staff dari badan sertifikasi pasti selalu bilang bahwa mereka memiliki auditor paling kompeten dan paling berpengalaman untuk industri/bisnis Anda. Tetapi untuk memastikan, biasakan meminta CV/resume auditor dari badan sertifikasi dan lakukan pemeriksaan terutama untuk melihat kesesuaian antara latar belakang pendidikan dan pengalaman auditnya (terutama daftar customer yang pernah diaudit) dengan industri / bisnis Anda. Lebih bagus lagi kalo Anda menyempatkan melakukan interview dengan auditor yang akan diajukan. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan keyakinan bahwa Auditor yang ditunjuk memang memiliki kompetensi yang sesuai. Auditor yang memiliki kompetensi dan pengalaman yang sesuai akan memberikan nilai tambah dan bisa membantu Anda dalam memacu perbaikan berkelanjutan terhadap SMM. Buat apa buang-buang uang jika tidak mendapatkan nilai tambah dari proses sertifikasi ini. Jika Auditor yang ditunjuk sama sekali awam terhadap bisnis / industri Anda, maka dalam setiap audit tentulah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat standard dan general, yang tentu tidak banyak membantu dalam mencari perbaikan berkelanjutan dan terutama best practice industri yang bisa membantu meningkatkan kinerja.

 

 

Framework IT (Selain COBIT)

 

ZACHMAN FRAMEWORK
Zachman Framework merupakan framework arsitekural yang paling banyak dikenal dan diadaptasi. Para arsitek data enterprise mulai menerima dan menggunakan framework ini sejak Zachman pertama kali mempublikasikan artikel deskpripsi kerangka kerja di IBM System Journal pada tahun 1987.
 
Gambar 1 : Zachman Framework Detail
Zachman Framework merupakan matrik 6×6 yang merepresentasikan interseksi dari dua skema klasifikasi – arsitektur sistem dua dimensi. Pada dimensi pertama, Zachman menggambarkannya sebagai baris yang terdiri dari 6 perspektif yaitu :
1.    The Planner Perspective (Scope Context) : Daftar lingkup penjelasan unsur bisnis yang dikenali oleh para ahli strategi sebagai ahli teori.
2.    The Owner Perspective (Business Concept) : Model semantik keterhubungan bisnis antara komponen-komponen bisnis yang didefenisikan oleh pimpinan eksekutif sebagai pemilik.
3.    The Designer Perspective (System Logic) : Model logika yang lebih rinci yang berisi kebutuhan dan desain batasan sistem yang direpresentasikan oleh para arsitek sebagai desainer.
4.    The Builder Perspective (Technology Physics) : Model fisik yang mengoptimalkan desain untuk kebutuhan spesifik dalam batasan teknologi spesifik, orang, biaya dan lingkup waktu yang dispesifikasikan oleh engineer sebagai builder.
5.    The Implementer Perspective (Component Assemblies) : Teknologi khusus, tentang bagaimana komponen dirakit  dan dioperasikan, dikonfigurasikan oleh teknisi sebagai implementator.
6.    The Participant Perspective (Operation Classes) : Kejadian-kejadian sistem berfungsi nyata yang digunakan oleh para teknisi sebagai participant.
Untuk dimensi kedua, setiap isu perspektif membutuhkan cara yang berbeda untuk menjawab pertanyaan fundamental : who, what, why, when, where and how. Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban dalam format yang berbeda. Zachman menggambarkan setiap pertanyaan fundamental dalam bentuk kolom/ fokus.
1.    What (kolom data) : material yang digunakan untuk membangun sistem (inventory set).
2.    How (kolom fungsi) : melaksanakan aktivitas (process transformations).
3.    Where (kolom jaringan) : lokasi, tofografi dan teknologi (network nodes).
4.    Who (kolom orang) : aturan dan organisasi (organization group).
5.    When (kolom waktu) : kejadian, siklus, jadwal (time periods).
6.    Why (kolom tujuan) : tujuan, motivasi dan inisiatif (motivation reason).
Untuk setiap cell pada matrik yang merupakan persimpangan antara presfektif dan fokus haruslah khas dan unik. Karena setiap cell menggambarkan setiap target tertentu. Berikut ini penjelasannya:
 
Contextual
  1. (Why) Goal List – tujuan utama organisasi
  2. (How) Process List – daftar semua proses yang diketahui
  3. (What) Material List – daftar semua entitas organisasi yang diketahui
  4. (Who) Organizational Unit & Role List – daftar dari semua unit organisasi, sub unit, dan pengidentifikasian pengguna
  5.  (Where) Geographical Locations List – lokasi sangat penting untuk organisasi, bias menjadi besar dan kecil
  6.  (When) Event List – daftar trigger dan cycle penting untuk organisasi
Conceptual
  1. (Why) Goal Relationship Model – mengidentifikasi tingkatan dari tujuan yang mendukung tujuan utama
  2. (How) Process Model – menyediakan deskripsi proses, proses input, proses output
  3. (What) Entity Relationship Model – mengidentifikasi dan mendeskripsikan pengelolaan material dan hubungannya
  4. (Who) Organizational Unit & Role Relationship Model – mengidentifikasi peran perusahaan dan unit dan hubungan antara keduanya
  5. (Where) Locations Model – mengidentifikasi lokasi perushaan dan hubungan antar keduanya
  6. (When) Event Model – mengidentifikasi dan mendeskripsikan kejadian dan siklus yang berhubungan dengan waktu
Logical
  1. (Why) Rules Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan aturan-atuaran yg menerapkan batasan – batasan pemrosesan dan entitas-entitas tanpa memperhatikan implementasi fisik atau teknis
  2. (How) Process Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan transisi proses dinyatakan sebagai  ungkapan kata kerja tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  3. (What) Data Model Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan entitas dan hubungannya tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  4. (Who) Role Relationship Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan peran-peran dan hubungannya ke peran yg lain sesuai tipe-tipe deliverable tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  5. (Where) Locations Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan lokasi yang digunakan untuk mengakses, memanipulasi dan transfer entitas dan pemrosesan tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
  6. (When) Event Diagram – mengidentifikasi dan mendeskripsikan keadaan yang berhubungan dgn kejadian yg lain pada sequence , siklus kemunculan dengan dan antara even – even, tanpa memperhatikan implementasi fisik dan teknis
Physical
  1. (Why) Rules Specification – diekspresikan dalam bahasa formal; terdiri dari aturan nama dan logika terstruktur untuk menentukan dan menguji keadaan aturan
  2. (How) Process Function Specification – diekspresikan dalam bahasa teknologi tertentu, elemen-elemen proses hirarkis berhubungan dengan pemanggilan proses
  3. (What) Data Entity Specification – diekspresikan dalam format teknologi khusus, setiap entity didefinisikan dengan nama,deskripsi,dan atribut; menampilkan hubungan
  4. (Who) Role Specification – mengekspresikan peran- peran dalam melakukan kerja dan komponen alur kerja pada level spesifikasi kerja produk yg terperinci
  5. (Where) Location Specification – mengepresikan komponen – komponen infrastruktur fisik dan koneksinya
  6. (When) Event Specification – mengekspresikan transformasi suatu keadaan – keadaan even terhadap minat ke perusahaan
Detailed Representation
Secepatnya ruang-ruang dengan representasi terperinci memberikan aturan –aturan detil untuk(apa); detil proses untuk(bagaimana); detil data untuk(apa); detil peran untuk(siapa);detil lokasi untuk(dimana); dan detil even untuk(kapan)
1.  FRAMEWORK SET OF RULES
The framework comes with a set of rules:
  • Rule 1 The columns have no order : Kolom yang dapat ditukar-tukar tanpa bias dikurangi atau ditambah
  • Rule 2 Each column has a simple generic model : Setiap kolom dapat memiliki meta model sendiri
  • Rule 3 The basic model of each column must be unique : Model dasar dari setiap kolom, relasi antar objek dan struktur unik. Setiap objek berhubungan saling bergantung tetapi merepresentasikan tujuan yang unik
  •  Rule 4 Each row describes a distinct, unique perspective : Setiap baris menggambarkan pandangan suatu kelompok usaha tertentu dan unik untuk itu. All rows are usually present in most hierarchical organization. Semua baris biasanya hadir dalam organisasi yang paling hirarkis.
  • Rule 5 Each cell is unique : Kombinasi dari 2,3 & 4 harus menghasilkan sel yang unik di mana setiap sel merupakan kasus tertentu. Contoh: A2 merupakankeluaran bisnis karena mereka mewakili apa yang menjadi akhirnya dibangun.
  • Rule 6 The composite or integration of all cell models in one row constitutes a complete model from the perspective of that row : Untuk alasan yang sama seperti untuk tidak menambahkan baris dan kolom, mengubah nama dapat mengubah struktur logis dasar Framework.
  • Rule 7 The logic is recursive : Logikanya adalah relasional antara dua contoh dari entitas yang sama.
2.  FLEXIBILITY IN LEVEL OF DETAIL
Salah satu kekuatan Kerangka Zachman adalah bahwa secara eksplisit menunjukkan seperangkat pandangan yang dapat ditangani oleh arsitektur enterprise. Beberapa merasa bahwa berikut model ini benar-benar dapat mengakibatkan terlalu banyak penekanan pada dokumentasi, artefak akan diperlukan untuk setiap satu dari tiga puluh sel dalam rangka.
John Zachman jelas menyatakan dalam dokumentasi nya, presentasi, dan seminar itu, sebagai kerangka kerja, ada fleksibilitas dalam apa kedalaman dan luasnya detil sangat diperlukan untuk setiap sel matriks berdasarkan pentingnya suatu organisasi. Sebuah mobil, yang tujuan bisnis mungkin memerlukan inventarisasi dan fokus proses-driven, bisa menemukan itu bermanfaat untuk memfokuskan upaya dokumentasi mereka pada kolom Apa dan Bagaimana. Sedangkan agen perjalanan perusahaan, yang bergerak lebih peduli dengan orang-orang dan peristiwa-waktu, bisa menemukan itu bermanfaat untuk memfokuskan upaya dokumentasi mereka pada kolom Siapa dan Kapan. Namun, tidak ada lolos dari Mengapa kolom’s pentingnya karena menyediakan driver bisnis untuk semua kolom lainnya.
3.  REASON USING ZACHMAN FRAMEWORK
Ada beberapa alasan yang menyebabkan Zachman Framework diadaptasi secara luas :
1.    Relatif sederhana karena hanya memiliki dua dimensi yang mudah untuk dipahami.
2.    Keduanya mengarahkan enterprise kedalam cara yang komprehensif dan mampu mengelola arsitektur untuk divisi individu maupun departemen.
3.    Menggunakan bahasa non teknis yang membantu orang untuk berfikir dan dan berkomunikasi secara lebih tepat.
4.    Dapat digunakan untuk mengkotakkan dan membantu memahami isu yang luas.
5.    Membantu menyelesaikan masalah desain, fokus terhadap detil tanpa kehilangan jalur secara keseluruhan.
6.    Membantu mengajarkan banyak topik sistem informasi yang berbeda.
7.    Merupakan alat perencanaan yang sangat membantu, menyediakan cara untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.
8.    Merupakan alat atau metoda khusus yang independen.
Capture2

Tugas IT2: Supply Chain Management

Nama : Arief Luthfi Sayoga

NIM : 0614124026

Kelas : Reguler B2B

RANCANG BANGUN APLIKASI PENGELOLAAN DATA PENGIRIMAN BARANG JALUR DARAT DI PT MANDIRI BIRU SEMESTA (MBS) JAKARTA SELATAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dewasa ini perkembangan dalam bidang jasa ekspedisi pengiriman barang semakin meningkat dan terus berkembang setiap detiknya. Dari awalnya pengiriman barang hanya diberlakukan di tempat dan daerah tertentu karena fasilitas yang masih kurang memadai dengan waktu yang relatif membutuhkan waktu yang lama sehingga membuat pelayanan perusahaan jasa ekspedisi dirasakan masih kurang maksimal. Tetapi sekarang karena perkembangan dalam bidang jasa ekspedisi pengiriman barang sudah berkembang dan fasilitas maupun transportasi yang digunakan sudah memadai. Pengiriman barang pun bisa dilakukan dengan waktu yang cepat dan menjangkau hampir seluruh wilayah yang ada di Indonesia sehingga pengiriman barang pun dapat dilakukan dengan lebih baik dan pelayanan terhadap konsumen yang mengunakan jasa perusahaan ekspedisi dapat dilakukan secara maksimal.

Perusahaan PT Mandiri Biru Semesta yang bertempat di jl. bangka 2 no. 43 mampang, Jakarta Selatan. Melayani jasa pengiriman barang dengan fasilitas yang memadai sehingga dapat menerima permintaan konsumen untuk melakukan pengiriman barang pada tujuan yang diinginkan dengan waktu yang relatif tidak membutuhkan waktu yang lama barang sudah sampai pada tujuan, kendati pelayanan jasa ekpedisi pengiriman barang sudah di implementasikan dengan baik pengelolaan data di dalam perusahaan masih kurang efisien karena masih dilakukan secara manual yaitu dengan meingputkan data dan pengelolaan laporan pengiriman barang dengan  menggunakan Microsoft excel.

Berdasarkan permasalahan diatas maka dibangun sebuah aplikasi pengelolaan data pengiriman barang untuk mempermudah proses pengelolaan data-data pengiriman barang pada perusahaan jasa ekspedisi pengiriman barang tersebut.

 

 

1.2 Identifikasi Masalah

1)        Pengelolaan data pengiriman barang ,  nomor pengiriman barang , tujuan pengiriman barang, status barang, harga jual jasa penigriman barang, transportasi yang akan digunakan sesuai bobot barang  dan jenis barang, masih dilakukan secara manual sehingga menimbulkan banyak kendala.

2)        Pengelolaan data laporan masih dilakukan secara manual baik itu  data pengiriman barang, data tujuan pengiriman barang  dan jenis barang, sehingga proses pendataan laporannya masih kurang efektif.

 

1.3 Tujuan

1)        Mengelola data yang melengkapi proses pengiriman barang, yaitu nomer pengiriman barang, tujuan pengiriman barang, harga jual jasa pengiriman barang dan transportasi yang akan digunakan untuk melakukan pengiriman barang.

2)        Mencetak  pengelolaan data laporan pengiriman barang yang telah dikirim sesuai dengan data yang telah diinputkan.

 

1.4  Ruang Lingkup

Agar pokok permasalahan pembuatan aplikasi ini dapat terarah dan tidak keluar dari ruang linkupnya, maka penulis membatasi permasalahan dalam hal pengelolaan data  pengiriman barang yaitu diantaranya :

1)        Penginputan data barang yang akan dikirim sesuai dengan nomor pengiriman barang, tujuan pengiriman barang dan transportasi yang akan digunakan sesuai dengan jenis barang.

2)        Mengelola data-data pengiriman barang yang sudah diinputkan ke dalam aplikasi.

3)        Menyimpan laporan data yang sudah diinputkan agar pengecekan data yang telah diinputkan sebelumnya dapat dilihat kembali.

4)        Pencetakan laporan dilakukan berdasarkan laporan yang dihasilkan oleh data yang  telah diinputkan dalam aplikasi.

5)        Menghasilkan keakuratan sistem pengiriman barang.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengiriman Barang

Pengertian Pengiriman Barang adalah “Mempersiapkan pengiriman fisik barang dari gudang ketempat tujuan yang disesuaikan dengan dokumen pemesanan dan pengiriman serta dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan penanganan barangnya” Sebelum melakukan pengiriman, aktifitas yang dilakukan setelah barang disiapkan adalah pengepakan (pack) dan pemilahan (sortasi). Packaging dilakukan secara sendiri-sendiri atau digabungkan untuk kenyamanan/keamanan barang. Sedangkan sortasi adalah mengumpulan picking atau packaging ke route yang benar dan harus membandingkan antara kapasitas truck dan route yang akan dilalui. Yang terpenting dilakukan didalam proses pack dan sortasi adalah: Adanya alamat/label untuk per tujuan Mengurangi waktu pencarian dalam packaging Pengelompokan antara karton, boxes atau pcs Memberikan label khusus untuk packaging boxes Menghitung jumlah koliMengelompokan packaging kedalam alur keberangkatan yang benar.

 

BAB III

ANALISIS DAN PERANCANGAN

 

3.1             Analisis

Analisis aplikasi adalah suatu pemahaman terhadap aplikasi yang dibuat. Analisis berguna untuk mengetahui proses-proses di dalam aplikasi yang terlibat serta berhubungan antar proses. Perancangan dan pengembangan implementasi aplikasi tidak akan terwujud dengan baik tanpa adanya analisa terhadap aplikasi yang sedang digunakan saat ini.

3.1.1     Analisis Sistem Berjalan (Current System)

Proses Pengelolaan data pengiriman barang yang masih berjalan  kurang efektif dan efisien, dan sering terjadinya ketidak akuratan data dalam melakukan update data pengiriman barang.

3.1.1.1            Analisis Prosedur (Flowmap)

Capture

Gambar 3-1 Flowmap Diagram yang sedang berjalan

3.1.1.2            Analisis Dokumen yang Digunakan

  1. 1.                  Prosedur Pengelolaan Data Pengiriman Barang
    1. Customer menyerahkan barang yang akan dikirim kepada petugas.
    2. Petugas mengecek barang yang akan dikirim dan menentukan barang siap untuk di kirim atau tidak.
    3. Petugas mengisi form pengiriman setelah itu melewati validasi data lalu data pengiriman disimpan, Selanjutnya petugas mencetak struk pengiriman barang.

3.1.2                  Analisis Sistem yang akan Dibangun

Capture2

 Gambar 3-2 Flowmap Diagram yang akan di bangun

 

3.1.2.2  Analisis Dokumen yang Digunakan Di bangun

  1. 1.                  Proses pengelolaan data pengiriman barang yang akan di bangun.
    1. Customer menyerahkan barang yang akan di kirim kepada petugas.
    2. Petugas melakukan pengecekan barang yang akan di kirim.
    3. Petugas mengisi form pengiriman barang dan data customer, selanjutnya dilakukan validasi data lalu petugas menyimpan data pengiriman barang dan data customer pada database , lalu data yang tersimpan otomatis masuk dalam laporan pengriman barang  dan di cetak struk pengiriman barangnya.

Selamat Menulis

Selamat Datang di Dunia Blog, dan selamat menulis…

Pengelola blog kembali mengingatkan akan peraturan pemakaian Blog Universitas Widyatama Bandung adalah sebagai berikut :

  1. Blog ini merupakan milik Universitas Widyatama termasuk didalamnya seluruh sub domain yang digunakan sehingga apa yang terdapat didalam blog ini secara umum akan mengikuti aturan dan kode etik yang ada di Universitas Widyatama Bandung.
  2. Blog ini dibuat dengan menggunakan aplikasi pihak ke tiga (WordPress), dan lisensi plugin plugin didalamnya terikat terhadap developer pembuat plugin tersebut.
  3. Blog ini dapat digunakan oleh Karyawan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Widyatama Bandung.
  4. Dilarang melakukan registrasi username atau site/subdomain blog dengan menggunakan kata yang tidak pantas.
  5. Dilarang memasukkan konten dengan unsur SARA, pornografi, pelecehan terhadap seseorang ataupun sebuah institusi.
  6. Dilarang menggunakan blog ini untuk melakukan transaksi elektronik dan pemasangan iklan.
  7. Usahakan sebisa mungkin untuk melakukan embed video atau gambar di bandingkan dengan melakukan upload secara langsung pada server.
  8. Pelanggaran yang dilakukan akan dikenakan sanksi penutupan blog dan atau sanksi yang berlaku pada aturan Universitas Widyatama sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  9. Administrator berhak melakukan pembekuan account tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jika dianggap ada hal hal yang melanggar peraturan.
  10. Aturan yang ada dapat berubah sewaktu waktu.

Beberapa Link terkait Universitas Widyatama

  1. Fakultas Ekonomi - http://ekonomi.widyatama.ac.id
  2. Fakultas Bisnis & Manajemen – http://manajemen.widyatama.ac.id
  3. Fakultas Teknik – http://teknik.widyatama.ac.id
  4. Fakultas Desain Komunikasi Visual – http://dkv.widyatama.ac.id
  5. Fakultas Bahasa – http://bahasa.widyatama.ac.id

Layanan Digital Universitas Widyatama

  1. Biro Akademik – http://akademik.widyatama.ac.id
  2. Rooster Kuliah – http://rooster.widyatama.ac.id
  3. Portal Mahasiswa – http://mhs.widyatama.ac.id
  4. Portal Dosen – http://dosen.widyatama.ac.id
  5. Digital Library – http://dlib.widyatama.ac.id
  6. eLearning Portal – http://learn.widyatama.ac.id
  7. Dspace Repository – http://repository.widyatama.ac.id
  8. Blog Civitas UTama – http://blog.widyatama.ac.id
  9. Email – http://email.widyatama.ac.id
  10. Penerimaan Mahasiswa Baru – http://pmb.widyatama.ac.id/online

Partner UTama

  1. Putra International College – http://www.iputra.edu.my
  2. Troy University – http://www.troy.edu
  3. Aix Marsielle Universite – http://www.univ-amu.fr
  4. IAU – http://www.iau-aiu.net/content/institutions#Indonesia
  5. TUV – http://www.certipedia.com/quality_marks/9105018530?locale=en
  6. Microsoft – https://mspartner.microsoft.com/en/id/Pages/index.aspx
  7. Cisco – http://www.cisco.com/web/ID/index.html
  8. SAP – http://www.sap.com/asia/index.epx
  9. SEAAIR – http://www.seaair.au.edu

Academic Research Publication

  1. Microsoft Academic  -  http://academic.research.microsoft.com/Organization/19057/universitas-widyatama?query=universitas%20widyatama
  2. Google Scholar – http://scholar.google.com/scholar?hl=en&q=Universitas+Widyatama&btnG=

Info Web Rangking

  1. Webometric – http://www.webometrics.info/en/detalles/widyatama.ac.id
  2. 4ICU – http://www.4icu.org/reviews/10219.html